Kebangkitan Kedua Penerbit Minangkabau Dari Sumatera Barat menuju Pulau Jawa





 Oleh: Anggun Gunawan [1] dan Zikri Fadila [2] 

 

PENDAHULUAN

Industri Penerbitan buku merupakan salah satu industri yang berkontribusi besar pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,[3] khususnya di Sumatera Barat. Penerbitan bukan hanya sebatas industri yang mencetak buku. Namun kehadiran penerbitan menjadi ujung tombak munculnya kaum intelektual. Berkat penerbitan, hasil pemikiran penulis dapat dibaca oleh masyarakat sebagai bentuk transfer ilmu. Hal ini menjadikan penerbitan sebagai lembaga industri yang berperan penting tehadap kemajuan intelektual masyarakat Minangkabau.

Pentingnya untuk meneliti lebih lanjut tentang penerbitan buku di Sumatera Barat pada masa awal bad ke-20 (1900-1942) tidak terlepas dari perhatian penulis terhadap perkembangan penerbitan yang cukup besar di Sumatera Barat pada masa itu. Sumatera Barat semapat menjadi pusat penerbitan dan perbukuan di Sumatera dan cukup dikenal hingga kebelahan Nusantara.

Semakin berkembangnya pendidikan Barat di Sumatera Barat pada akhir abad ke-19, sangat berpengaruh dalam mempercepat proses modernisasi  secara struktural merubah lapisan sosial tertentu dalam masyarakat. Proses industrialisasi, baik itu perkebunan dan pertambangan, perubahan sistem birokrasi, urbanisasi, perluasan infrastruktur, maupun mobilitas sosial membuat terbentuknya pola-pola hubungan sosial dalam jaringan yang baru.[4]




Puncak dari modernisasi dalam berbagai bidang telah mendorong meningkatnya pendapatan penduduk. Kuatnya kemampuan ekonomi mereka juga memberi pengaruh terhadap tingkat kosumumsi masyarakat yang semakin heterogen di berbagai daerah perkotaan, seperti Kota Padang, Fort de Kock (Bukittinggi), Sawah Lunto, Padang Panjang, dan Payakumbuh. Berkembangnya  berbagai teknologi baru, seperti mesin cetak, dalam hal ini memicu muncul dan berkembangnya industri penerbitan dan percetakan, memungkinkan untuk hadirnya berbagai kebutuhan baru.[5]

Awalnya mesin cetak digunakan oleh pemerintah kolonial untuk mencetak administrasi pemerintahan. Pengunaan mesin cetakpun terus maju sesuai perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Munculnya media massa, yang awalnya hanya berbentuk surat kabar, kemudian bergerak dalam  bentuk buku sebagai bahan bacaan

Studi yang dilakukan terkait dengan teknologi percetakan di Sumatera Barat dominan masih dalam tataran media pers lokal. Hendra Naldi (2008), misalnya telah membahas mengenai perkembangan suart kabar di Sumatra’s Weskus. Sastri Sunarti (2013), telah menelaah secara mendalam kelisanan dan keberaksaraan dalam surat kabar terbitan awal di Minangkabau (1859-1940-an), serta Yuliandre Darwis, Ph. D yang membahas sejarah perkembangan pers Minangkabau (1859-1945).[6] Dari beberapa kajian tersebut, belum ada tersentuh terkait perkembangan pernerbitan dan perbukuan di Sumatera Barat pada awal abad ke-20.

Studi awal mengenai dunia penerbitan dan perbukuan datang dari seorang Dr. Suryadi dari University of Leiden)  dalam tulisanya berjudul “Dunia Penerbitan dan Perbukuan di Sumatera Barat sebelum Zaman Kemerdekaan”.[7]Studi awal ini membahas penerbitan dan perbukuan di Sumatera Barat abad ke-19 sampai paruh pertama abad ke-20. Suryadi menjelaskan bahwa, gairah dunia perbukuan dan penerbitan pada masa kolonial erat kaitannya dengan euforia melek huruf dan keahusan akan “modernisasi” yang berhembus dari negeri Barat. Kaum intelektual pribumi, walaupun jumlahnya kecil, menjadi sumbu pemicu konflik-konflik internal dalam satu kebudayaan. Mereka menemukan media yang cocok untuk menyuarakan ide dan pemikian mereka, yaitu buku-sebuah media baru yang lebih efektif, membawa kesan “modern” dan lebih portable daripada naskah (manuscript).[8]




Nusantara yang didirikan oleh Anwar Sutan Saidi[9] tercatat sebagai penerbit Sumatera Barat yang mampu bertahan sampai tahun 1970-an. Kemudian pelan-pelan redup karena kalah berbagai faktor termasuk karena dominasi penerbit-penerbit yang berkantor di pulau Jawa.

Data menarik disampaikan oleh IKAPI Pusat bahwa di tahun 2014 tercatat hanya 6 penerbit yang eksis di Sumatera Barat. Sebuah kondisi yang amat bertolak belakang apabila kita bandingkan dengan kejayaan penerbit-penerbit Sumatera Barat pada periode 1900-1945 yang bisa mencapai 50-an penerbit. Faktar menarik lainnya adalah kreativitas dan produktivitas penerbitan di Sumatera Barat pada sebelum kemerdekaan itu telah mendorong tampilnya Indonesia sebagai negara dengan jumlah terbitan nomor 3 di negara-negara kolonialisasi di Asia setelah Hong Kong and Singapura.

Namun, setelah melakukan penelusuran lebih lanjut kami menemukan fakta menarik bahwa peran orang Minang tidak benar-benar redup dan hilang dari dunia industri buku Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran penerbit-penerbit besar di Indonesia seperti Rosda Karya, Bumi Aksara, Raja Grasindo, Zikrul Hakim Berstari, Yudhistira, Femina Grup dan Kartini Grup serta percetakan terbesar di Indonesia – percetakan Ghalia – yang dimiliki oleh orang Minang.

Pada artikel ini kami akan 2 fase kebangkitan penerbitan milik orang Minang di Sumatera Barat dan di Jawa serta apakah ada kemungkinan bagi “penerbit-penerbit” milik orang Minang tersebut untuk “pulang kampung” menghidupkan lagi industri buku Indonesia dari Sumatera Barat.

KEBANGKITAN PERTAMA DI SUMATERA BARAT

Berkembangnya penerbitan dan perbukuan  pada masa awal abad ke-20 di Sumatera Barat sebagian telah dikelola oleh orang Minangkabau sendiri. Meskipun awalnya penerbitan tersebut berada di tangan penguasa kolonial Belanda, kemudian pribumi di Minangkabau berhasil melakukan hubungan kerja sama dengan pengusaha asing lainnya seperti Eropa dan Tionghoa yang telah lebih dahulu menjalankan usaha penerbitan di Hindia Belanda.[10]

Penerbitan buku bacaan umum berbahasa Melayu pada masa itu dikuasai oleh orang-orang Cina. Orang pribumi hanya bergerak dalam usaha penerbitan buku berbahasa daerah. Pada masa itu muncul beberapa penerbitan dan percetakan dengan memunculkan nama-nama  seperti M.A van Rijn, Y. Rongger, Paul Boumer, P.B Smith, Dja Endar Moeda, Mahyoeddin Datoek Soetan Maharadja, Soetan Radja Nan Gadang, Lim Kang Am, Lie Djoe Soean, Lim Tjeng Djit, Lim Soe Hin, dan lain-lain.[11]




Kegiatan penerbitan di Sumatera Barat berkembang pesat di Padang, kota terpenting di keresidenann Sumatra’s Westkust. Titik perkembangan ini terus menjalar hingga wilayah-wilah lain di luar padang seperti Fort de Kock, Padang Panjang, Payakumbuh, Pariaman dan wilayah lainnya di Keresidenan Sumatra’s Westkust.

Tabel 1: Penerbiitan  yang berkembang di Sumatera Barat Awal Abad ke-20

NO Wilayah Penerbitan
1. Padang Snelpers Drukkerij Orang Alam Minangkabau
2. S.W.K Typ. Tiong Hoa Ien Soe Kiok
3. Lim Eng Tjiang
4. Snelpersdrukkerij Al Moenir
5. Padangsche Snelpresdrukkerij
6. Bangoen
7. Boekh. Mahmoedijah
8. Snelpersdrukkerij Insulinde
9. (Boekhandel & Uitgever Noesantara) Roman Indonesia
10. Noesantara
11. Otto Bumer
12. De Volherding
13. Paul Bumer & Co
14. Kalid & Company
15. Stel
16. Tjemeti
17. Electric Drukkerij Sumatra
18. Timoer
19. Dirham
20. Poernama
21. Tjit-Sien
22. Boekhandel Tjan & Co
23. Boekhandel en Drukkerij Padang
24. Bemindelling Burreau Samsuddin Rasaat

 

25. Persatuan Moeslim Indonesia

 

26. Gazaira

 

27. Fort de Kock Typ Drukkerij “BAROE”
28. Tsamaratoel Ichwan
29. Drukkerij Agam
30. Merapi (penerbitan pengusaha Tionghoa
31. Boekhanel en Uitgever A. M Djambek
32. Penjiaran Ilmoe
33. Drukkerij Kahami Fort de Kock
34. Taman Pustaka Sumatera Thawalib
35. Mathaba’ah al-Islamiyah
36. NV. Nusantara
37. Lie
38. Tjerdas
39. Zam-zam
40. Poestaka Negara
41. Nasional
42. Padang Panjang Dinijjah School Padang Pandjang
43. Boekhandel & Uitgever Dt. Seripado
44. Boekhandel M. Thaib bin H. Ahmad
45. Tandikat
46. Sa’adiyah
47 Pariaman Minangkabau
48 Sulit Air Oesaha Djas
49 Soloksche Drukkerij
50 Payakumbuh Drukkerij L.M Kabau Batang Agamweg
51 Limbago Minangkabau
52 Eleonora
53 Kurai Taji Permoeda Moehammadijah
Sumber:  Sastri Sunarti, Kajian Lintas Media Kelisanan dan Keberaksaraan Dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-1940-an), ( Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2013), hlm. 53-55. Suryadi, “Dunia Penerbitan dan Perbukuan di Sumatera Barat sebelum Zaman Kemerdekaan,” dalam editor, Nasrul Azwar,  Menyulam Visi, DKSB dalam Catatan, (Padang: DKSB, 2003), hlm 599-624. Saduran berbagai bibliografi buku-buku dan jurnal penelitian, dan artikel.

 

Berangkat dari data diatas, penulis akhirnya menyadari bahwa perkembangan dunia penerbitan dan perbukuan tidak hanya berpusat di pusat keresidenan, namun menyebar hingga daerah daratan. Penulis berasumsi bahwa perkembangan penerbitan dan perbukuan ini dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, wilayah atau perkembangannya secara spacial (tempat). Pada awal abad ke-20, terdapat tiga wilayah yang menjadi pusat penerbitan yaitu Padang, Fort de Kock dan Padang Panjang.

Kedua, Jenis-jenis dan tema buku yang diterbitkan juga beragam. Di aataranya buku tema Islam, Minangkabau, roman, nasional, dan umum. Beberapa penerbitan terkadang memiliki ciri khas tersendiri terhadap buku yang diterbitkannya, ada yang dominan menerbit Roman, atau buku-buku Islam atau kitab-kitab.




Ketiga, Perkembangan penerbitan tentu tidak terlepas dari penulis. Penulis sebagai pemilik tulisan  tentu merupakan kaum intelektual yang lahir dari proses pendidikan. Hal ini dipicu oleh banyaknya sekolah umum, atau pondok pesantren.

Perkembangan penerbitan dan perbukuan di Sumatera Barat terlihat menjamur dan diperkirakan terus berkembang hingga setelah kemerdekaan. Penerbitan yang notabennya bukan hanya penerbitan pribumi, tetapi juga penerbitan Cina yang lebih dahulu mewarnai jagat pernebitan dan perbukuan di Sumatera Barat. Sejumlah pemodal Cina mulai menanamkan investasi dalam bisnis penerbitan dan percetakan di Padang. Mereka menerbitkan sendiri koran-koran dengan memakai bahasa Melayu pasar. Namun penerbitan buku-buku masih belum jadi prioritas mereka.[12] Boekhandel en Drukkerij Padang adalah salah satu penerbitan Cina yang mulai menerbitkan cerita-cerita peranakan Cina sejak tahun 1920-an. Contoh cerita yang diterbitkan di antaranya “Koepoe-Koepoe Poeti’atawa pernjamoean prempoean jang gaga-brani (oleh Lie Sim Jwe, 1924), Mr. Dr. Oey Boen Lie: Tjerita Jang bener telah kdjadian di Djawa-Koelon (oleh No.999 (nama pena)).[13]

Penerbitan Pribumi juga ikut muncul, dan berkembang dengan pesat. Beberapa penerbitan seperti, Volkdrukkerij Djatilaan, Snelpersdrukkerij “Insulinde” dan penerbitan Orang Alam Minangkabau cukup maju dalam menerbitkan surat kabar dan buku-buku di Padang.

Perkembangan penerbitan dan perbukuan tidak hanya berkembang di Padang saja, tetapi juga menjalar ke wilayah-wilayah lain seperti Fort de Kock, Padang Panjang, Payakumbuh, Pariaman, dan lain-lain. Beberapa penerbitan dan perbukuan di wilayah tersebut, justru mulai berkembang menyaingi penerbitan di Padang. Fort de Kock dan Padang Panjang yang merupakan wilayah yang cukup banyak menaruh perhatian terhadap dunia penerbitan terutama  buku-buku.

Pada tahun 1920-1940-an, penerbitan dan percetakan  di Fort de Kock bermunculan dengan  menerbitkan buku-buku berbahasa Melayu dan Minangkabau.[14] Di antranya penerbitan Agam, Merapi, Noesantara (Bukittinggi), Tjerdas, Kahamy, Tsamaratoel Ichwan dan lain-lain. Begitupun dengan penerbitan di Padang Panjang yang juga menaruh perhatian terhadap kebutuhan perbukuan. Beberapa penerbitan yang cukup besar pada masa itu di antaranya, Boekhandel M. Thaib Ahmad, Drukkerij Merapi, Poestaka Sa’adijah, Seripado dan lain-lain.

Penerbitan di Sumatera Barat atau bisa disebut ‘Sumatra’s Westkust’ meliliki banyak gendre (jenis atau tema bacaan). Ada penerbitan yang dominan menerbitkan sastra, syair, roman, buku-buku agama, buku-buku pelajaran, dna buku-buku umum. Umumnya masing-masing penerbitan memiliki ciri khas masing-masing terhadap buku yang diterbitkannya. Misalnya, Penerbitan Noesantra, dan penyiran Ilmoe yang cukup banyak menerbitkan Seri Roman Indonesia dan Roman Pergaoelan[15]. Penerbitan al-Islamiyah yang banyak menerbitkan kitab-kitab ulama (buku-buku Islam) dan lain-lain.

Dunia penerbitan dan perbukuan di Sumatera Barat telah membesarkan beberapa nama penulis seperti, A.Damhoeri, Decha, D. Chairat dan lain-lain dalam dunia roman. H. Abdullah Ahmad, Abdullah Abdul Karim, H. A. M. K Amrullah, Datoe’ Saggoeno di Radjo dan buku-buku islam dan Minangkabau. Dan penulis lain baik pribumi, maupun peranakan Cina.

Melihat banyaknya berdiri industri penerbitan di Sumatera Barat pada masa awal abad ke-20, menunjukkan Sumatera Barat telah memiliki kekuatan di bidang ekonomi, dan pendidikan. Berkembangnya dunia penerbitan dan perbukuan di Sumatera Barat telah menjadi sorotan wilayah lain. Sehingga Sumatera Barat telah menggeser Medan dalam mengasai perbukuan Sumatera, dan dikenal hingga kepenjuru nusantara.

Kehadiran penerbitan dan perbukuan di Sumatera Barat telah dimulai pada abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20 yang berkaitan erat dengan euforia melek huruf dan arus “modernisasi” yang dibawa oleh kolonial Barat. Kaum intelektual pribumi, walaupun jumlahnya kecil, menjadi sumbu pemicu lahirnya semangat pembentukan dan diseminasi kebudayaan. Mereka menemukan media yang cocok untuk menyuarakan ide dan pemikian mereka, yaitu buku-sebuah media baru yang lebih efektif dan membawa kesan “modern”.




Berkembangnya penerbitan dan perbukuan  pada masa awal abad ke-20 di Sumatera Barat sebagian telah dikelola oleh orang Minangkabau sendiri. Meskipun awalnya penerbitan tersebut berada di tangan penguasa kolonial Belanda, kemudian pribumi di Minangkabau berhasil melakukan hubungan kerja sama dengan pengusaha asing lainnya seperti Eropa dan Tionghoa yang telah lebih dahulu menjalankan usaha penerbitan di Hindia Belanda.

Kemunculan penerbitan buku di Minangkabau (Sumatera Barat) sangat didorong oleh kehadiran sekolah-sekolah baik milik pribumi ataupun milik kolonial Belanda yang telah mendorong semakin tingginya angka literasi di Sumatera Barat serta melahirkan tokoh-tokoh intelektual yang membutuhkan media buku sebagai media untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Geliat semangat penerbitan buku di Sumatera Barat ternyata mulai menyusut selepas kemerdekaan. Dimana tokoh-tokoh intelektual Minang yang selama ini berkiprah di Sumatera Barat turut pindah ke Ibukota Negara Republik Indonesia yang baru, Batavia/Jakarta. Selepas kemerdekaan, Presiden Soekarno banyak mendirikan perguruan tinggi di pulau Jawa yang semakin menambah arus migrasi kaum intelektual Minangkabau ke tanah Jawa. Jakarta tidak saja berstatus sebagai ibukota negara, tetapi secara signifikan berubah menjadi pusat ekonomi Indonesia yang juga mengerusi keberadaan industri buku di Sumatera Barat. Apalagi jalur bahan baku dan distribusi buku lebih mudah apabila dipusatkan di pulau Jawa.

KEBANGKITAN KEDUA DI JAWA

Sama seperti tren yang terjadi pada awal abad 20 bisnis penerbitan yang dimiliki oleh orang Minang beriringan dengan kiprah mereka di bisnis percetakan.. Biasanya usaha percetakan yang mereka bangun dalam bentuk menyetak undangan pernikahan dan perkantoran serta buku. Dalam periode-periode berikutnya usaha percetakan ini kemudian berlanjut dengan usaha penerbitan buku dan toko buku.[16]

Adapun beberapa nama pengusaha yang sukses bergelut di bisnis percetakan ini ialah Muhammad Arbie[17] (Medan), Asril Das[18] dan Rozali Usman[19] (Bandung), Hamzah Lukman (Bogor), serta Rainal Rais[20] (Jakarta). Menurut catatan yang dihimpun oleh Mochtar Naim, 40% usaha penerbitan nasional dipegang oleh pengusaha-pengusaha asal Minang, yang sebagian besar mereka berkantor di ibukota Jakarta. Tetapi ungkapan Mochtar Naim ini masih harus diverifikasi lagi karena untuk menemukan jejak penerbit-penerbit milik orang Minang yang berkantor di pulau Jawa memang agak sulit. Informasi tersebut kebanyakan penulis dapatkan melalui keterlibatan dalam acara-acara Ikatan Penerbit Indonesia lewat pertemuan-pertemuan intens para petinggi atau pemilik penerbitan. Dalam awal-awal perkenalan mereka tidak menyebutkan asal atau suku. Tetapi biasanya penulis bisa menebak dari logat bahasa, cara bicara dan nama mereka. Ketika merasakan ada rasa “Minang” dalam lidah mereka, penulis mencoba untuk menanyakan lebih lanjut tentang darimana mereka berasal dan akhirnya dari situlah terungkap tentang keberadaan mereka sebagai orang Minang.




Sejauh penelitian kami paling tidak ada sekitar 9 penerbitan “milik” orang Minang yang masuk dalam jajaran penerbit top Indonesia:

 

Penerbitan YUDHISTIRA GHALIA INDONESIA[21]

Yudhistira Ghalia Indonesia didirikan pada tahun 1971 di Jakarta. Buku-buku yang diterbitkan meliputi buku-buku hukum, perundang-undangan, sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia. Sejak tahun 1978 penerbitan ini mulai masuk pada bisnis buku-buku ajar. Penerbit ini menyediakan buku-buku pelajaran bagi siswa dan pendidik dari tingkat SD/MI, SMP/MTs sampai ke SMA/MA/SMK serta juga menyasar buku-buku teks untuk perguruan tinggi. Apabila untuk sekolah mereka memakai brand “Yudhistira”, maka untuk buku-buku perguruan tinggi mereka memakai merek “Ghalia Indonesia”.

Grup penerbitan ini memiliki misi “mendarma-baktikan diri pada dunia perbukuan untuk berperan serta mencerdaskan kehidupan bangsa guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia”. Saat ini kantor pusat PT Yudhistira Ghalia Indoneisa berada di daerah Ciawi Bogor.

 

Zikrul Hakim Bestari

Zikrul Hakim – Bestari merupakan penerbit yang memilih genre unik yakni menerbitkan buku-buku anak dengan penekanan kepada nilai-nilai Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan. Penerbitan ini didirikan pada tahun 2000 oleh Remon Agus, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Andalas yang berasal dari Padangpanjang.

Saat ini Penerbit Zikrul Hakim Bestari memiliki 2 merek produk (imprint) yaitu: “Bestari” dan Zikrul”. “Bestari” diformat untuk mengembangkan buku-buku pengetahuan untuk anak-anak yang terdiri dari 2 lini 2 lini yaitu Bestari dan Bestari Kids. Sedangkan “Zikrul” (Zikrul Hakim) menggarapkan pasar dari berbagai level usia (balita, anak-anak, remaja dan dewasa) di bawah bendera Zikrul Media Intelektual, Zikrul Remaja, Zikrul Anak dan Zikrul Kitab. Penerbit ini punya kedekatan yang cukup intens dengan Ustadz Yusuf Masyur dimana penerbit ini menerbitkan salah satu buku mega bestseller “Wisata Hati” karya Ustadz Yusuf Mansyur.

Penerbitan ini cukup produktif dengan menerbitkan sekitar 250 judul buku per tahun. Pada tahun 2014, Zikrul Hakim Bestari telah menorehkan catatan bisa menyetak 4.022.000 eksemplar buku.[22]

 

Bumi Aksara

Bumi Aksara didirikan oleh Bapak Amir Hamzah pada tahun 1990. Di awal-awal kiprahnya, penerbitan ini memproduksi buku-buku manajemen, agama dan pendidikan. Pada tahun 1992, penerbitan yang berkantor di Jakarta ini semakin menguatkan eksistensinya dengan bergabungnya penerbit Sinar Grafika yang dikenal sebagai penerbit yang khusus bergerak di buku-buku hukum dan perundang-undangan.




Lima tahun kemudian (1995) BumiAksara berhasil mendirikan percetakan sendiri dan pada tahu ini juga mereka mulai berkiprah di segmen buku-buku sekolah khususnya buku-buku pelajaran siswa SLTP dan SLTA. Di tahun 2000, penerbitan ini membuat divisi khusus (imprint) “Amzah” yang khusus menerbitkan buku-buku keagamaan. Mencermati ceruk bisnis menggiurkan buku-buku anak, di tahun 2008 Bumi Aksara membuat BAKids (Bumi Aksara Kids) dengan menerbitkan buku-buku anak yang diantaranya dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Pengembangan bisnis mereka terus bergulir, dimana di tahun 2017 mereka membuat divisi baru lagi (imprint) “Bumi Medika” yang khusus menerbitkan buku-buku kesehatan termasuk juga menerjemahkan beberapa judul buku kesehatan asing ke Bahasa Indonesia.[23]

 

 RajaGrafindo Persada[24]

 RajaGrafindo didirikan pada 1980 dengan nama awal CV Rajawali. Pada tahun 1992 barulah mereka memakai nama PT. RajaGrafindo Persada. Penerbitan ini memiliki fokus pada penerbitan buku-buku perguruan tinggi dan ilmu pengetahuan umum. Saat ini penerbitan yang berbasis di Jakarta ini memiliki 6 divisi (imprint):

  1. Divisi Rajawali Pers

Divisi ini berkonsentrasi menerbitkan buku- buku teks/wajib yang dalam proses belakar-mengajar di perguruan tinggi seperti di fakultas sosial, politik, hukum, psikologi, ekonomi, pertanian, agama dan lain sebagainya.

  1. Divisi Rajawali Sport

Divisi fokus menerbitkan buku-buku olahraga dan kesehatan.

  1. Divisi Srigunting

Divisi ini mengambil fokus menerbitkan buku-buku keagamaan untuk memenuhi kebutuhan umum.

  1. Divisi Murai Kencana

Divisi ini menerbitkan buku-buku pilihan yang digunakan sebagai bacaan pendukung dalam proses mengajar dan untuk memenuhi kebutuhan umum.

  1. Divisi Kolibri

Divisi mengambil peran dalam menerbitkan buku-buku fiksi seperti novel dan kumpulan cerpen, baik sastra maupun populer.

  1. Divisi Rajawali Cilik

Divisi ini menerbitkan buku-buku anak dan buku pelajaran sekolah.

 

Remaja Rosdakarya

Penerbit Remaja Rosdakarya didirikan pada 15 Mei 1961 dengan nama awal CV. Remaja Karya. Dengan anak perusahaan bernama CV. Rosda. Pada tahun 1970, mereka meluaskan bidang usahanya di bidang percetakan dan di tahun 1975 mereka mendirikan PT. Rosda Jayaputra di Jakarta. Di tahun 1990, CV Remaja digabung dengan CV Rosda dan kemudian memiliki nama baru PT Remaja Rosdakarya. 1 Januari 1998 PT Rosda Jayaputra dimerger ke PT Remaja Rosdakarya sehingga perusahaan ini memiliki 2 lini bisnis” penerbitan dan percetakan berskala besar.

Buku-buku yang diterbitkan PT Remaja Rosdakarya menjangkau skala yang cukup luas, antara lain:

  1. buku-buku perguruan tinggi (pendidikan, komunikasi, filsafat, sosiologi, psikologi, dan sebagainya);
  2. buku-buku agama Islam baik untuk perguruan tinggi maupun buku agama Islam populer; buku umum ilmiah, populer ataupun bergambar;
  3. buku-buku anak/perpustakaan yang terdiri atas buku-buku ini ditujukan untuk anak usia pra-sekolah dan usia sekolah dengan maksud untuk menambah pengetahuan, mengembangkan kreativitas dan imajinasi anak. Buku-buku tersebut disusun secara berseri, seperti seri dunia dalam bahaya, seri biologi, seri ekologi, seri binatang, seri lingkungan, seri ensiklopedi, seri Nabi, seri Walisanga, dan lain-lain.

 

Saat ini Rosda memiliki lini internasional dengan bendera “Rosda Internasional” yang foku menerbitkan buku-buku berbahasa Inggris/asing. Mereka memiliki kantor-kantor cabang penjualan (Bagian Penjualan Penerbit) yang berada di beberapa kota, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya serta perwakilan di Malaysia. Adapun divisi Percetakan Rosda berada di Bandung yang bekerja dalam proses penggandaan buku dari penerbit Rosda sendiri maupun penerbit lain.

 

 AL MAWARDI PRIMA

Al Mawardi Prima merupakan penerbitan yang didirikan oleh KH. Mawardi Labay El-Sulthani[25] dan Afrizal Sinaro (Ketua IKAPI Jakarta 2016-2021) pada tahun 1994. Penerbitan ini berkonsentrasi memproduksi buku-buku Islam khususnya seputar tema-tema ibadah.




Ide penerbitan ini berawal dari kebiasaan KH Mawardi yang membagikan catatan-catatan materi ceramah kepada jamaah. Di awal-awal berdirinya penerbitan ini hanya menerbitkan buku-buku karya KH. Mawardi. Seiring berjalannya waktu, Penerbit Al Mawardi yang berkantor di Jakarta ini menyasar naskah-naskah dari penulis lain tetapi tetap pada genre seputar Islam.[26]

 

FEMINA GROUP

Femina Group yang didirikan oleh putra-putri Sutan Takdir Alisjahbana Femina Group didirikan pada 1972 oleh putra-putri Sutan Takdir Alisjahbana (Mirta Kartohadiprodjo[27] dan Sofyan Alisjahbana[28]). Perusahaan ini memulai usahanya dengan menerbitkan Majalah Wanita Femina. Saat ini mereka memiliki 14 terbitan majalah seperti: Femina, Gadis, Ayahbunda, Dewi, Women’s Health Indonesia, Cita Cinta, Pesona, Men’s Health Indonesia, Readers’ Digest Indonesia, Cleo Indonesia, Parenting Indonesia, Grazia Indonesia, Best Life Indonesia dan Estetica Indonesia.

Selain menerbitkan 14 judul majalah, Femina Group juga merambah bidang-bidang media yang lain. Mereka memiliki dua stasiun radio bersegmentasi wanita, U-fm Jakarta dan U-fm Bandung; Community Newspaper yakni Superstar Gading, Superstar Puri, Superstar Serpong, Superstar Pondok Indah dan Bintaro; Book Publishing, Custom Publishing, Modelling Agency, Pusat Kreatif Femina, Event Organizer, On-line Publishing, Pre-Press & Printing House dan Direct Marketing Services.[29]

 

Kartini Group

Kartini Gropu didirikan oleh Lukman Umar[30] setelah melihat keberhasilan Majalah Femina menjadi bacaan utama perempuan-perempuan Indonesia. Ketika itu Lukman Umar berstatus sebagai agen distributor Femina.  Ia memulai majalah wanita bernama “Kartini” pada tahun 1974 yang menyasar kaum wanita kelangan menengah ke bawah. Kurang dari 10 tahun Kartini mencapai sirkulasi terbesar dimana mereka berhasil meraih oplah 183.000 eksemplar setiap penerbitan pada jajaran majalah-majalah wanita.[31]

Selain mendirikan Kartini, Lukmah Umar juga menerbitkan majalah wanita Sarinah, majalah anak-anak Ananda, Putri Indonesia, Hasta Karya, Asri, Amanah, Panasea, Dialog, Karina, dan Forum Keadilan. Semua media-media tersebut dicetak melalui perusahaannya yang bernama Garuda Metropolitan Press.

Faktor Kebangkitan Kedua

Migrasi yang dilakukan oleh orang Minangkabau ke kota-kota di Jawa menjadi faktor penting dalam kelahiran penerbit-penerbit milik orang Minang terutama di Jakarta dan Bandung. Mereka yang terjun ke dunia buku ada yang memang berasal dari kalangan intelektual yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di kampus-kampus terkenal di Indonesia yang merupakan “berkah” dari kemerdekaan atau mereka yang punya core profesi sebagai ulama dan ada juga yang memang mulai dari nol dengan berjualan buku atau menjadi agen dari penerbit lain terlebih dahulu di emperan-emperan pasar-pasar kota-kota besar di Indonesia kemudian baru berpikir untuk membuat usaha penerbitan dan percetakan.

Kesuksesan orang-orang Minang pada awal abad 19 di bidang penerbitan yang juga diikuti banyaknya orang-orang Minang yang mengambil jalur sebagai penulis dan bekerja serta bergelut dengan penerbitan Balai Pustaka yang menjadi penerbit terbesar milik pemerintah kolonial Hindia Belanda telah menjadi mendorong juga untuk melakukan kebangkitan kedua di daerah rantau, Jawa.

Demografi dan pusat-pusat intelektual seperti sekolah dan kampus menjadi faktor penting dalam tumbuh dan berkembangnya industri penerbitan. Populasi pulau Jawa yang mencapai 57-58 persen dari total penduduk Indonesia (Sensus 2010) menjadi market potensial bagi penerbit manapun untuk berjualan. Orang-orang pintar Indonesia juga banyak yang kemudian bekerja di Jakarta dan kota-kota besar di Jawa. Kehadiran intelektual ini tidak bisa dilepaskan dari dunia penerbitan karena yang menjadi poin sentral dari dunia penerbitan adalah stok sumber daya manusia penulis.




Kesimpulan dan Saran

Mencermati periodesasi kebangkitan pertama dan kebangkitan kedua penerbit milik orang Minang dapat ditarik beberapa garis kesamaan dan garis demarkasi. Dunia penerbitan baik di periode pertama maupun di periode kedua sangat dibantu oleh kebutuhan masyarakat termasuk juga pemerintah dalam menyediakan buku-buku bacaan bagi sekolah-sekolah. Genre buku-buku yang diterbitkanpun sebenarnya juga tidak jauh berbeda yang berkisar pada tema-tema keislaman, sastra, pengetahuan umum dan pelajaran di sekolah/perguruan tinggi. Yang jadi pembeda di antara kebangkitan periode pertama dan kebangkitan periode kedua hanyalah pada buku-buku anak dimana pada periode pertama tidak terlalu terlihat kehadiran penyediaan buku-buku anak sementara pada periode kedua ada penerbit milik orang Minang yang fokus pada genre ini dan beberapa penerbit besar milik orang Minang meskipun fokus utamanya tidak pada buku anak tetapi kemudian ikut membuat divisi khusus untuk buku-buku anak.

Peralihan pusat ekonomi dan intelektual ke pulau Jawa menjadi faktor penting yang membuat penerbit-penerbit milik orang Minang eksis di perantauan dan pada saat yang sama penerbit-penerbit yang berada di Sumatera Barat (Ranah Minang) mulai menyusut dan hanya menjadi penerbit berskala lokal atau paling jauh hanya mampu berbicara dalam skala regional. Keberhasilan sebuah penerbit sangat ditentu oleh oplah buku yang bisa dijual. Keberadaan pulau Jawa sebagai tempat separoh penduduk Indonesia bertempat tinggal dan mencari nafkah menjadi faktor yang membuat mendirikan penerbitan di pulau Jawa lebih menguntungkan dibandingkan mendirikan usaha penerbitan di Sumatera Barat.

Menutup tulisan ini penulis menyadari penelusuran penulis masih bersifat umum dan membutuhkan elaborasi lebih mendalam terutama dalam hal verifikasi berapa jumlah penerbitan milik orang Minang yang saat ini eksis dalam dunia penerbitan Indonesia terutama yang berkantor di kota-kota besar di Pulau Jawa. Mudah-mudahan pada tulisan-tulisan selanjutnya penulis dapat melakukan kajian lanjutan tentang keberadaan penerbit-penerbit milik orang Minang.




DAFTAR PUSTAKA

Buku:

  • Hendra Naldi, Booming Surat Kabar di Sumatra”s Wesrkust. Yogyakarta: Ombak, 2008.
  • Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Industri Penerbitan Buku Indonesia Dalam Data dan Fakta, Jakarta: IKAPI, 2015.
  • Sastri Sunarti, Kajian Lintas Media Kelisanan dan Keberaksaraan Dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-1940-an). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). 2013.
  • Suryadi, 2003. “Membaca Dunia Penerbitan dan penulisan Sumatera Barat”. Dalam Nasrul Azwar (ed), Menyulam Visi, DKSB dalam Catatan. Padang: DKSB. 2003.

 

Skripsi:

  • Amalia, Irma. “ANALISIS STRATEGI PROMOSI CITRA MAJALAH GADIS (STUDI KASUS) PT. FEMINA GROUP. Skripsi Jurusan Komunikasi Pemasaran Jenjang Pendidikan Strata-1. BINA NUSANTARA UNIVERSITY JAKARTA 2011

 

Jurnal:

  • Sudarmoko, Roman Pergaoelan, Penulisan Sejarah, dan Kanonisasi Sastra Indonesia, Jurnal Humaniora Fakultas Ilmu Budaya UGM, Vol. 21 No 1 Februari 2009 pp. 28-40. ISSN 0852-0801. Terakreditasi Nasional.

 

 Website:

 

[1] Merupakan Alumni S1 Filsafat UGM. Sejak tahun 2010 berkiprah di dunia penerbitan Indonesia lewat Gre Publishing. Menjadi Delegasi Indonesia pada Frankfurt Book Fair 2014. Calon Mahasiswa S2 bidang Publishing Media Oxford Brookes University Inggris.

[2] Adalah mahasiswa tingkat akhir S1 Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang dengan konsentrasi penerbitan buku di Sumatera Barat pada awal abad 20. Pada tahun 2016 berhasil menjadi Juara 1 pada kontes paper sejarah antar mahasiswa se Indonesia yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Sejarah Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

[3] Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Industri Penerbitan Buku Indonesia Dalam Data dan Fakta, (Jakarta: IKAPI, 2015), hlm. vii.

[4] Hendra Naldi, Booming Surat Kabar di Sumatra”s Wesrkust, (Yogyakarta: Ombak, 2008) . hlm. 59

 [5] ibid. hlm. 60.

[6] Pembahasan yang ditulis oleh Yiliandre Darwis, Ph. D mengenai perkembangan pers Minangkabau (1859-1945) dikhususkan pada pers Islam.

[7]Artikel ini disajikan dalam seminar “Membaca Dunia Penerbitan dan penulisan Sumatera Barat”, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sumatera  Barat, Padang. 25 Agustus 2003. Tulisan ini telah diterbitkan dalam buku Editor, Nasrul Azwar, “Menyulam Visi, DKSB dalam Catatan”, (Padang: DKSB, 2003).

[8]Suryadi, “Dunia Penerbitan dan Perbukuan di Sumatera Barat sebelum Zaman Kemerdekaan,” dalam editor, Nasrul Azwar,  Menyulam Visi, DKSB dalam Catatan, (Padang: DKSB, 2003), hlm. 624.

[9] Anwar Sutan Saidi dilahirkan di Sungai Pua, Kabupaten Agam Sumatera Barat pada 19 April 1910 dan meninggal dunia di Padang 1 Juni 1976. Di tahun 1930 ia mendirikan Bank Tabungan Saudagar di Bukittinggi yang kemudian menjadi Bank Nasional. 8 tahun kemudian (1938) ia mendirikan penerbitan NV Nusantara yang banyak menerbitkan buku-buku sastra yang merupakan bacaan wajib bagi siswa-siswi di sekolah. Ia mengelola NV Nusantara bersama anaknya – Rustam Anwar” dan menjadikan NV Nusantara sebagai salah satu penerbit terbesar di pulau Sumatera kala itu (https://id.wikipedia.org/wiki/Anwar_Sutan_Saidi)

[10] Sastri Sunarti, Kajian Lintas Media Kelisanan dan Keberaksaraan Dalam Surat Kabar Terbitan Awal di Minangkabau (1859-1940-an), ( Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2013), hlm. 53-55.

[11]Suryadi, “Dunia Penerbitan dan Perbukuan di Sumatera Barat sebelum Zaman Kemerdekaan,” dalam editor, Nasrul Azwar,  Menyulam Visi, DKSB dalam Catatan, (Padang: DKSB, 2003), hlm. 600

[12] Suryadi, Op.,  Cit., hlm 601

[13] ibid, hal. 604

[14] ibid,. hal. 610

[15] Sudarmoko, Roman Pergaoelan, Penulisan Sejarah, dan Kanonisasi Sastra Indonesia, Jurnal Humaniora Fakultas Ilmu Budaya UGM, Vol. 21 No 1 Februari 2009 pp. 28-40. ISSN 0852-0801. Terakreditasi Nasional.

[16] https://id.wikipedia.org/wiki/Saudagar_Minangkabau

[17] Muhammad Arbie lahir di Blang Kejeren, Gato Lues Aceh pada 2 Agustus 1920 dari pasangan L. Sidimarah (ayah) dan Rafiah (ibu) asal Bayur, Agam, Sumatera Barat. Ia berdomisili di Medan Sumatera Utara. Ia memulai bisnis menjual kain dan barang-barang kelontong. Setelah masa kemerdekaan ia banting stir dengan menjual alqur’an dengan membelinya di Singapura. Sukses berjualan Al Qur’an, pada tahun 1949 ia berinvestasi dengan membeli mesin cetak letter press dan mendirikan toko buku kecil yang diberi nama Pustaka Madju. Beberapa tahun berikutnya toko Pustaka Madji berubah menjadi  penerbitan Madju (PT. Madju Medan Cipta) dengan konsentrasi pada penyetakan buku-buku pelajaran sekolah. Di tahun 1985 ia membuka percetakan di kawasan Pulogadung Jakarta dengan berkonsentrasi pada penyetakan buku-buku pesanan pemerintah untuk program Sekolah Dasar Inpres d seluruh Indonesia  (https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Arbie).

[18] Asril Das lahir di Koto Baru Kabupaten Solok Sumatera Barat pada 10 Oktover 1954 dari pasangan Darusi Datuk Malintang Alam (ayah) dan Samsinar (ibu) asal Minangkabau. Dia merupakan sarjana pendidikan lulusan IKIP Bandung (1980). Kiprahnya di dunia penerbitan dikenal lewat toko buku “Lubuk Agung” (https://id.wikipedia.org/wiki/Asril_Das)

[19] H. Rozali Usman, SH dilahirkan di Sulit Air, Kabupaten Solok Sumatera Barat pada tahun 1936 dan meninggal dunia di Bandung 2 November 2013. Ia dikenala sebagai pendiri dan pemilik PT. Remaja Rosdakarta sebuah perusahaan yang bercikal bakal dari CV Remaja Karya yang ia dirikan pada 15 Mei 1961. Ia merupakan Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dari tahun 1983 sampai 1998 ((https://id.wikipedia.org/wiki/Rozali_Usman))

[20] Rainal Rais dilahirkan di Sulit Air, Kabupaten Solok Sumatera Barat pada 27 Oktober 1943 dan meninggal dunia di Singapura pada 1 Agustus 2012. Karier bisnisnya di dunia penerbitan dikenal lewat perusahaan percetakan Rora Karya yang banyak menyetak buku-buku umumm dan bahan perkuliahan. Gelar sarjananya diraih dari Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung (https://id.wikipedia.org/wiki/Rainal_Rais).

[21] http://www.yudhistira-gi.com/tentang-kami

[22] http://penerbitbestari.com/index.php?route=information/information&information_id=4

[23] https://bumiaksara.com/history/

[24] http://www.rajagrafindo.co.id/profil-perusahaan/

[25] Mawardi Labay El-Sulthani dilahirkan di Surau Ladang, Jorong Koto Marapak, Nagari Lambah, Kecamatan Angkek Canduang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada 5 Maret 1936. Beliau meninggal dunia di Jakarta, 14 September 2003.  Beliau dikenal sebagai seorang ulama, penceramah agama, dan pengusaha yang menerbitkan buku-buku keislaman. Pendidikannya ditempuh di Pesantren Kulliyyatul Mu’alimin, Padang Panjang, Sumatera Barat. Di masa Orde Baru, iai sering diundang berceramah di Istana Negara sehingga ia terbilang cukup dekat dengan kalangan Istana dan kalangan konglomerat Indonesia. Ia juga dikenal sebagai pendiri Islamic Centre Al-Iman, Bogor, Yayasan Harapan Ibu, dan penerbitan PT. Al Mawardi Prima.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Mawardi_Labay_El-Sulthani#cite_note-1)

[26] http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/15/12/26/nzyyj1301-kh-mawardi-labay-el-sulthani-sang-pendidik-dari-tanah-minang-part2

[27] Mirta Kartohadiprodjo dilahirkan di Jakarta, 13 September 1944. Ia dikenal sebagai seorang pengusaha, jurnalis dan pendiri kelompok usaha penerbitan Femina Group dan menjabat CEO pada grup usaha tersebut.

Mirta merupakan anak pertama Sutan Takdir Alisjahbana dari istri keduanya, Raden Roro Sugiarti.  (https://id.wikipedia.org/wiki/Mirta_Kartohadiprodjo)

[28] Sofyan Alisjahbana merupaka pendiri kelompok usaha penerbitan Femina Group. Ia merupakan anak ketiga Sutan Takdir Alisjahbana dengan istri pertamanya Raden Ajeng Rohani Daha (https://id.wikipedia.org/wiki/Sofyan_Alisjahbana)

[29] ANALISIS STRATEGI PROMOSI CITRA MAJALAH GADIS ( STUDI KASUS ) PT. FEMINA GROUP SKRIPSI diajukan sebagai salah satu syarat untuk gelar kesarjanaan pada Jurusan Komunikasi Pemasaran Jenjang Pendidikan Strata-1 Oleh Irma Amalia 1100013282 BINA NUSANTARA UNIVERSITY JAKARTA 2011

[30] Lukman Umar merupakan putra Minangkabau asal Padang, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan sarjana di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Kariernya di dunia penerbitan mulai melejit lewat posisi sebagai redaktur di majalah Varia.  Setelah sempat berkoflik dengan rekan yang sama-sama membesarkan Majalah Kartini yang membuatnya lengser dari jabatan direktur, pada tahun 1986 Lukman kembali menjadi pimpinan umum dan pimpinan perusahaan Kartini Group (https://id.wikipedia.org/wiki/Lukman_Umar).

[31] http://ekawenats.blogspot.co.id/2006/04/politik-ekonomi-industri-media-di.html

Sumber Ilustrasi Foto: http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/suasana-peluncuran-minang-book-fair-mbf-2017-di-jakarta-_161221063948-294.jpg

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*