Perjuangan CEO Gre Publishing untuk Bisa Kuliah S2 Publishing Media di UK

Oleh: Anggun Gunawan
Awardee BPI Reguler LN LPDP 2017 tujuan MA in Publishing Media Oxford Brookes University UK. Alumni S1 Filsafat UGM. Saat ini berkiprah di industri penerbitan dengan bendera Gre Publishing

Ada perjalanan panjang hingga akhirnya aku sampai pada status sekarang ini, secara official menjadi “calon awardee LPDP LN 2017”. Yang mendorongku hingga sampai pada titik ini bisa dikatakan hanyalah pertolongan Allah dan impian yang tak pernah padam untuk bisa kuliah di luar negeri. Impian yang rasa-rasanya terlalu utopis dengan prestasi akademik-ku yang biasa-biasa saja dan kemampuan bahasa Inggris ketika wisuda yang jauh dari kategori baik. Aku menghabiskan 7,5 tahun untuk menyelesaikan program S1 di jurusan Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada. Di ijazah memang tertulis 6 tahun 8 bulan. Karena 1 semester aku mengambil cuti untuk bisa kuliah S1 kedua di jurusan Sastra dan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kuliah kedua yang hanya kujalani selama 2 semester. Kemudian aku harus ngos-ngosan karena jadwal kuliah yang saling bertabrakan di 2 kampus. Belum lagi rasa capek karena bolak-balik UGM – UIN dengan memakai sepeda ontel di tengah terik dan polusi kendaraan di jalanan Yogyakarta. Kemampuan Bahasa Inggris-pun juga masih berantakkan. Selama 7,5 tahun kuliah itu tidak pernah sekalipun aku mencoba tes TOEFL. Meskipun ada 2 semester mengambil mata kuliah Bahasa Inggris Filsafat, tetapi nilai yang kudapatkan hanya nilai belas kasihan, B. Itupun hanya karena rajin masuk dan aktif di kelas. Padahal saat itu tenses yang 4 pun saya tidak tahu dan tak paham. Tes TOEFL pertamaku adalah beberapa bulan selepas wisuda S1 UGM di sebuah lembaga kursus di Jogja. Aku masih ingat nilai yang kudapatkan 377.

Butuh waktu 7 tahun lamanya mencari IELTS overall band 6.5. Persiapan khusus IELTS pun kulakukan dengan membuat “IELTS CLUB” yang beranggotakan kawan-kawan yang punya semangat mau kuliah ke luar negeri. Pendirian “IELTS CLUB” inipun lebih didorong oleh masalah finansial. Untuk ambil les IELTS di tahun 2015 di Jogja sudah di atas 1,5 juta rupiah. Nilai uang yang bisa dipakai untuk bertahan hidup selama sebulan di Jogja. Selama 2 tahun bersama-sama kawan-kawan yang juga bermodalkan niat tulus pengen dapat skor IELTS untuk kuliah ke luar negeri, saya menyisihkan waktu 2 sampai 4 hari untuk belajar IELTS bareng di perpustakaan dan gazebo-gazebo di taman-taman yang ada di kampus UGM.

Umurku ketika memasukkan berkas seleksi administrasi LPDP sudah menginjak 32,5 tahun. Status kelulusan S1 pun juga tak mentereng, 6 tahun 8 bulan. Yang membuatku agak sedikit pede adalah IPK yang lumayan tinggi, 3,61 tanpa satupun nilai C dan pengalaman yang lumayan di dunia penerbitan. Ya, targetku adalah ingin mengambil S2 khusus penerbitan buku. Jurusan yang ibarat langit dan bumi. Filsafat yang mengawang-ngawang. Publishing Media yang sangat teknis. Penguat yang lain hanyalah status sebagai “Delegasi Indonesia pada Frankfurt Book Fair 2014”. Frankfurt Book ini merupakan pameran buku terbesar se-dunia. Lebih dari 100 tahun negara yang ikut. Di sana kita bisa bertemu dengan puluhan ribu orang-orang yang mendedikasikan diri pada industri perbukuan.

Karena jarak kelulusan S1 dengan waktu pendaftaran LPDP 2017 berjarak 7 tahun lebih, akhirnya kuputuskan tidak meminta “Surat Rekomendasi” kepada dosen-dosenku dulu di UGM. Aku pun mencari rekomendasi yang lebih spesifik untuk menguatkan aplikasiku di LPDP dengan menghubungi sahabat-sahabat senior lain yang mengenalku sebagai seorang praktisi penerbitan buku. Hingga kudapatkan rekomendasi dari Ketua Indonesia International Book Fair 2014 yang juga kawan sekamar sewaktu semingguan mengikuti Frankfur Book Fair 2014 lewat beasiswa dari Goethe Institut. Beliau juga adalah salah satu pengurus IKAPI Pusat (Ikatan Penerbit Indonesia) dan meraih gelar MBA dari sebuah kampus di Australia. Pemberi rekomendasi kedua adalah seorang Professor Riset LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bidang Komunikasi lulusan S2 Hawaii University dan S3 Murdorch University Australia yang selalu mengikuti status facebook-ku. Hampir setiap status yang kubuat di facebook selalu beliau “like” dan kalau ada yang menarik, tak lupa beliau tinggalkan komentar. Hubungan baik di dunia maya dan beberapa kali pertemuan di Jakarta itulah yang membuat beliau bersedia memberikan Surat Rekomendasi untuk mendaftar LPDP di tahun 2017 ini.

Jujur, saya sudah membuat akun LPDP sejak tahun 2013. Tetapi baru saya gunakan di tahun 2017. Selama 3 tahun lebih akun LPDP saya ngangur. Sehingga ketika bisa mengumpulkan satu per satu berkas yang diminta LPDP (minus LoA dan surat izin atasan karena aku adalah CEO di penerbitan yang kubuat), aku sudah senang banget. Karena semua berkas itu kudapatkan dengan proses “berdarah-darah”. Ijazah S1 mengorbankan waktu 7,5 tahun. Sertifikat IELTS band 6.5 memakan waktu 2 tahun. Surat keterangan kesehatan, TBC dan bebas narkoba harus mengeluarkan biaya sekitar Rp. 700.000.

seleksi administrasi - publish
Seleksi administrasi bisa kulewati dengan pengumuman “Selamat, Anda Lolos Seleksi Administrasi LPDP”. Kemudian muncullah pengumuman untuk mempersiapkan seleksi “Assessment Online” yang baru di tahun 2017 ini diberlakukan oleh LPDP. Terpaksalah perselancaran dilakukan. Untunglah ada beberapa awardee LPDP dalam negeri yang menceritakan pengalaman mengikuti tes assessment online itu di blog-blog pribadi mereka. Dengan persiapan seadanya, akhirnya tes ala psikologi ini bisa kukerjakan tak sampai satu jam. Deg-degan juga karena kita tidak pernah tahu apa yang sedang dinilai dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak ada yang benar dan salah, tetapi sangat menentukan nasib menuju seleksi terakhir (seleksi substansi). Dan memang benar, seleksi satu ini memakan korban salah seorang kawan yang sama-sama belajar bareng VMI dan FQ 14+. Kami yang belajar bareng berlima orang tidak menyangka kawan satu ini akan tersandung di tes yang tampaknya sangat mudah ini. Padahal di antara kami berlima, dialah pemegang IELTS paling tinggi, 7,5.

seleksi online - 1 - publish

Seleksi “Assessment Online” yang sangat “tricky” itu – Alhamdulillah – berhasil juga kulewati. Perasaan semakin deg-degan menunggu hari menuju seleksi terakhir, Seleksi Substansi yang berisi 3 fase tes yang sama-sama panas. Wawancara, Leaderless Group Discussion dan Essay on The Spot.

Email dari LPDP untuk jadwal tes substansi ini datang 2 hari menjelang pernikahan saya. Dan Yogyakarta yang saya pilih sebagai venue untuk melakukan tes ini adalah kota tempat penyelenggaraan test yang pertama. Sementara karena saya berjodoh dengan gadis Minang juga, mau tak mau, pelaksanaan pernikahan dilaksanakan di rumah calon pengantin perempuan yang berada di kaki Gunung Marapi Bukittinggi Sumatera Barat. Di undangan yang tersebar, saya akan menikah pada Jum’at 8 September 2017. Sementara saya mendapatkan jadwal harus menjalani tes Substansi di hari Selasa tanggal 12 September 2017.

Biasanya penganten baru akan menghabiskan waktu seminggu dua minggu selepas pernikahan. Baik itu untuk berbagai rangkaian acara adat, termasuk juga istirahat sejenak sambil jalan-jalan ke beberapa tempat yang okey punya buat “honey moon”. Saya pun harus mengkomunikasikan situasi ini dengan calon mertua dan calon istri. Alhamdulillah mereka mau mengerti dengan posisi saya dan merelakan saya kembali ke Jogja dengan hanya merayakan pesta pernikahan selama 3 hari di Bukittinggi.

Senin 11 September 2017, dengan menaiki pesawat Citi Link, saya dan istri berangkat ke Jogja. Sampai sore hari di Jogja, malamnya hingga pagi di hari Selasa kami sudah sibuk menyiapkan berkas-berkas yang akan dicek oleh LPDP sebelum diperbolehkan untuk mengikuti Seleksi Susbtansi. Beberapa berkas harus saya print lagi. Koper besar yang berisikan dokumen-dokumen penting dibuka lagi untuk menemukan versi asli ijazah dan berbagai sertifikat yang diwajibkan dibawa pada pelaksanaan tes substansi.

Saya mendapatkan giliran mengikuti tes substansi dengan perputaran “Tes Wawancara” dulu, kemudian Tes “Essay on the Spot” dan terakhir “Leader Less Group Discussion”. Saya menjalani Tes Interview dengan 3 pewawancara LPDP sekitar 50 sampai 55 menit. Karena kategori kuliah BPI S2 Reguler Luar Negeri, maka seluruh wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris. Dan saya selama beberapa bulan tidak pernah bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dengan teman-teman IELTS CLUB (sebuah club yang saya buat untuk persiapan tes IELTS dengan kawan-kawan di Jogja yang juga sedang berburu S2 luar negeri) karena sudah sibuk dengan berbagai penyiapan dokumen, editan buku dan persiapan pernikahan. Untung saja beberapa hari sebelum pernikahan paper saya yang berjudul “Sepakterjang Penerbitan Milik Orang Minang” terpilih untuk dipresentasikan dalam Seminar Internasional yang diadakan oleh Universitas Andalas Padang, Kamis 7 September 2017 atau persis sehari menjelang hari pernikahan saya. Paper itu harus saya sampaikan dalam bahasa Inggris, jadi cukup membantu untuk mencairkan lidah saya yang kelu gara-gara lama tak berbicara dalam bahasa Inggris.

Interview dibuka dengan perkenalan diri. Setelah 3 pewawancara LPDP memperkenalkan diri, saya kemudian diminta untuk memaparkan siapa saya, latar belakang pendidikan, aktivitas saat ini dan jurusan serta kampus yang akan dituju. Pertanyaan yang sifatnya akademis dan psikologi serta ideologis kebangsaan tidak berurutan sehingga saya harus bisa memutar otak secara cepat untuk merespon pertanyaan dari pewawancara yang terdiri dari 2 experts dan 1 psikolog itu. Pertanyaan untuk tema “PSIKOLOGI dan KEPRIBADIAN” lebih diarahkan kepada bagaimana caranya saya beradaptasi dengan situasi dan orang-orang yang melakukan penyelewengan dan pelanggaran aturan. Kedua, lebih banyak diarahkan soal bagaimana cara kita berinteraksi dan bergaul dengan lingkungan yang baru. Termasuk di dalamnya pertanyaan soal apakah saya pernah melakukan perjalanan ke luar negeri. Untuk pertanyaan-pertanyaan seputar psikologi dan kepribadian ini saya banyak terbantu dengan pengalaman berorganisasi dan bergaul di tengah-tengah masyarakat.

Untuk pertanyaan seputar Ideologi Kebangsaan, saya ditanyakan soal masih relevankah Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia. Karena isu soal HTI lagi marak, saya banyak mengelaborasi soal HTI sekaligus menyebutkan tentang sejarah perumusan Pancasila. Saya memaparkan bahwa tidak ada pertentangan antara Pancasila dan Islam serta sebagian besar perumus Pancasila yang melakukan Rapat di BPUPKI adalah para ulama atau minimal orang-orang dididik oleh institusi pendidikan keislaman. Yang menjadi persoalan adalah nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya teraktualkan dan terimplementasikan dalam ranah nyata di tengah-tengah masyarakat.

Porsi yang cukup banyak memang pada pertanyaan seputar AKADEMIK dan KONTRIBUSI selepas kuliah. Yang paling saya ingat adalah ketika salah seorang expert pewawancara saya menanyakan soal tesis yang akan saya buat, “Kenapa anda ingin membandingkan Oxford University Press dengan UGM Press, bukan membandingkan UGM Press dengan pemiliki Scopus yaitu Elsevier?” Pertanyaan ini muncul karena saya mengawali penjelasan saya kenapa mengambil kuliah S2 Publishing Media dengan konsenstrasi Academic Publishing. Dimana saya memaparkan soal kondisi kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah para peneliti dan akademisi Indonesia yang untuk tataran Asia Tenggara saja masih ketinggalan dibandingkan Singapura, Thailand dan Malaysia. Kemudian saya mencoba memberikan argumentasi bahwa harus ada perubahan mindset bahwa publikasi ilmiah bisa dijadikan sebagai sumber pemasukan negara. Saya menggambarkan bahwa revenue yang bisa dikumpulkan oleh Elsevier bisa mencapai lebih dari 10 kali lipat akumulasi revenue dari seluruh penerbit Indonesia per tahun. Nah, kenapa saya ingin membuat tesis tentang perbandingan Oxford University Press dan UGM Press dikarenakan saya melihat 2 penerbit ini sama-sama penerbitan kampus. Dan saya selalu mengingat nasehat dari dosen-dosen saya, kalau hendak membanding 2 hal yang berbeda, maka buatlah perbandingan yang equal dan seimbang. Makanya membandingkan UGM press dengan Elsevier tidak relevan. Yang ingin saya sasar dengan riset tersebut adalah lewat penelisikan terhadap Oxford University Press yang sudah terkenal sebagai leader dalam penerbitan naskah-naskah akademik di dunia, paling tidak ada beberapa inspirasi yang bisa dipraktekkan oleh penerbitan-penerbitan kampus di Indonesia.

Pertanyaan kedua yang paling berkesan bagi saya untuk tema kontribusi bagi Indonesia adalah ketika Interviewer menanyakan kepada saya, “Nanti selepas kuliah apa yang akan anda lakukan? Melamar jadi PNS, mendaftar menjadi dosen, atau kembali ke penerbitan anda? Entah kenapa ketika itu saya dengan pede-nya menjawab, “saya akan kembali berjuang membesarkan penerbitan saya pak.” Saya memberikan argumentasi bahwa “Saat ini pemerintah kita mengalami kesulitan untuk menyediakan lapangan kerja kepada anak-anak muda. Kuota lowongan PNS bahwa tidak sampai dari 2% dari angkatan kerja yang dimiliki oleh Indonesia. Perlu ada solusi-solusi untuk mengatasi problem pengangguran di Indonesia. Nah, harapannya ketika saya bisa membesarkan penerbitan saya, ada lowongan kerja yang bisa saya sediakan untuk anak-anak muda Indonesia yang galau mau kerja apa.”

Terus terang selepas wawancara, poin yang terakhir ini membuat saya lemes karena saya merasa “kembali membesarkan penerbitan” dinilai oleh pewawancara sebagai jawaban yang egois. Ditambah lagi dalam keseluruhan wawancara, saya merasa tidak banyak memakai complex sentences dalam menjawab pertanyaan disebabkan baru 2 kalimat jawaban spontan, saya sudah diberondong pertanyaan bersayap dari apa yang saya jawab.

Kegalauan selepas hampir 1 jam melewati sesi Interview agak sedikit mencair ketika di sesi “Essay on the Spot”. Tema yang diberikan sering saya ulas dan diskusikan di WA group dan Facebook, yaitu soal full day school. Sehingga waktu yang diberikan selama 30 menit bisa saya pergunakan dengan baik meskipun saya merasa essay yang saya buat dalam bahasa Inggris itu tidak terlalu mendalam mengupas soal Full Day School.

Melewati 2 rangkaian tes tanpa jeda memang membuat energi terkuras. Selang beberapa menit, akhirnya saya sampai di sesi paling akhir, Leaderless Discussion. Saya adalah peserta yang terakhir memasuki ruangan. Dan saya adalah peserta terakhir yang mendapatkan kesempatan berbicara. Serta saya adalah peserta yang singkat berbicara. Apalagi saya ketemu dengan teman-teman yang sudah fluent dalam merangkai kata dalam bahasa Inggris. Pemakaian vocabulary nya sangat cantik dan beragam. Intonasinya bagus. Kalimat demi kalimat terstruktur dengan baik. Saya yang sudah lemes karena mendapatkan kesempatan bicara terakhir, hanya memakai kalimat sederhana ketika memaparkan soal tema yang tertulis di kertas saya “Apa yang anda usulkan sebagai pegawai kementerian untuk membuat nilai-nilai pancasila bisa semakin tersebar luas dan tersosialisasikan dengan baik di tengah-tengah masyarakat.” Seingat saya, hanya 3 poin yang saya usulkan dan kemudian saya tutup dengan kalimat penegas di akhir saya bicara.

Kira-kira 2-an siang semua rangkaian tes substansi itu terselesaikan. Perut sudah mulai keroncongan. Badan lemes karena merasa di tes Wawancara dan LGD saya tidak bisa menampilkan performa maksimal. Sudah kepikiran untuk menyiapkan berkas aplikasi Chevening. Untungnya, saya melewati proses berat ini dengan status baru, sebagai suami dan sudah didampingi istri. Sehingga ketika saya tampak hopeless, istri saya langsung memberikan semangat dan motivasi.

Tanggal 25 Oktober 2017 menjadi jawaban atas perjuangan sekian tahun itu. Dan Alhamdulillah, Allah takdirkan saya LOLOS beasiswa LPDP dan mimpi kuliah ke luar negeri.

seleksi substansi - publish

Yang dibutuhkan oleh seorang pejuang adalah kesabaran dan kesabaran serta tidak putus asa menjalani proses selama berjuang. Tuhan selalu menyaksikan apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya. Dan Dia tidak akan mungkin mengacuhkan pengorbanan dan do’a yang dilakukan sungguh-sungguh oleh hambanya itu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*