MOHAMAD NATSIR DATUAK SINARO PANJANG: Sosok yang Hidup Lebih Lama dari Usianya

PADANG, HALUAN — 13 FEBRUARI 2013 M — Even a single word is selected. Bahkan setiap kata, merupakan pilihan. Inilah yang ingin disampaikan sosok ulama Sumatera Barat, H. Mas’oed Abidin terhadap buah pikiran salah satu sosok revolusioner Indonesia, Mohamad Natsir Datuak Sinaro Panjang atau akrab disebut M. Natsir.

Buya kelahiran Koto Gadang Bukittinggi 11 Agustus 1953 ini menghabiskan waktu 20 tahun untuk menyisir kembali pemikiran M. Natsir.

Sejak tahun 1968 ia telaten mengumpulkan berbagai literatur tentang Natsir. Tentu saja dilengkapi dengan pengalaman eksklusif dirinya hidup bersama tokoh Masyumi dan pendiri Da’wah Islamiyah Indonesia ini.

Buah pikiran berupa gagasan dan pola gerak dakwah Natsir didokumentasikan Mas’oed dalam buku ke sepuluh yang ia tulis selama masa hidupnya. “Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir”. Buku setebal 437 halaman tersebut padat berisi narasi tentang gagasan dan aktifitas Natsir terutama momen-momen penting perjalanan Natsir selama hayatnya.

Sederhana dan padat. Dua kata inilah yang dipilih Mas’oed untuk menggambarkan sosok yang dikaguminya ini. “Beliau sosok yang cinta akan kesederhanaan. Padat dalam kata-kata. Setiap gagasan yang disampaikannya, mereka yang jeli tak hanya akan menganalisa kalimat namun setiap kata yang dikeluarkannya,” tutur Buya saat berkunjung ke Haluan, Selasa (12/1) kemarin. Disambut Wakil Pemimpin Umum Haluan, Zul Effendi, Mas’oed menuturkan penghormatannya yang tinggi kepada Natsir. “Ia sosok yang tak banyak bicara, namun dari setiap pembicarannya kita akan melihat substansi yang, saat ini, bahkan sangat aktual,” katanya.

Ini terbukti saat Maso’ed mengajak kami membuka sembarang halaman saja dari buku berlatar kover merah putih itu. Dengan lugas ia menjelaskan kaitan gagasan Natsir pada zaman itu dengan konteks kekinian yang sangat erat.

Ini tak lepas dari kesantunan Natsir bermain kata. “Bahkan surat yang ia tulis akan ia koreksi kembali,” terang Mas’oed. Tak jarang pula sosok yang sudah dinobatkan menjadi pahlawan nasional ini mengoreksi naskah pidato yang akan disampaikan Soekarno pada masa perjuangan kemerdekaan. Pernah sekali waktu, kenang Mas’oed, lelaki yang pernah tinggal seatap dengannya ini mengirim telegram. Jika ia tak salah kira telegram itu berbunyi, Adinda, jika memiliki waktu luang, tulis-tulis jugalah laporan yang kami sudah menunggunya. “Itu ungkapan ia saat ia marah. Itulah kalimat yang muncul saat ia sangat marah kepada saya waktu itu. Lihat betapa santunnya ia,” kenang Mas’oed.

Dalam konteks kekinian, lanjut Mas’oed, inilah yang hilang dari generasi muda saat ini. Para pejabat dan politikus yang cenderung tidak pintar memilih kata. Komunikasi politik dan budaya saat ini semakin carut marut.

Pun dalam terminologi perjuangan, Natsir adalah sosok yang kompleks. Mas’oed menggambarkan ini dengan sosok Natsir yang tak hanya dikenal sebagai pejuang, namun juga guru, pendakwah, politisi, bahkan sebagai seorang Perdana Menteri saat itu tak diragukan lagi. “Menteri mana saat ini yang mau pulang dengan sepeda?” seloroh Mas’oed. Perjuangan Natsir dibidang politik memberikan manfaat yang sama dengan perjuangannya di jalan dakwah. “Namun kini yang kita lihat, mereka yang memilih jalan politik justru meninggalkan jalan dakwah,” katanya lagi.

Poin ini pula yang menjadi perhatian Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi. Peringatan Natsir kepada para da’i untuk tak buta politik, bagi mantan Gubernur Sumbar ini merupakan gagasan yang masih sangat aplikatif untuk dicermati saat ini. Seperti yang pernah diungkapkan Buya Hamka, “Pak Natsir adalah salah satu contoh tokoh yang namanya dikenang lebih panjang dari usianya, Kebesaran itu selalu diingat karena pemikiran, sikap, dan keteladanan beliau,” tulis Mendagri dalam pengantarnya di awal buku ini.

Sementara Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Dr. Adian Husaini mengatakan buku yang ditulis oleh Buya Mas’oed Abidin ini merupakan upaya untuk menimba mata air keteladanan dari seorang Natsir. “Kedekatan Buya Mas’oed dengan Natsir menjadi nilai tambah yang bermakna bagi buku ini. Sebab beliau adalah salah satu saksi hidup tentang keteladanan Natsir,” tulisnya.

Namun, Mas’oed menyadari buku ini belum sepenuhnya tuntas mengupas gagasan dan gerak dakwah Natsir. “Biarkan ini menjadi tugas bagi generasi selanjutnya untuk melengkapi literatur tentang sisi lain dari Natsir,” ungkapnya. (h/dla)