Dari Peluncuran dan Bedah Buku “Tiga Sepilin, Surau Solusi untuk Bangsa”

Membangun Tradisi Surau dalam Konteks Kekinian  Tercerabutnya identitas Minang dalam diri generasi muda akhir-akhir ini, menjadi kekhawatiran banyak kalangan. Buya Mas’oed Abidin mengimplementasikan kekhawatirannya lewat buku berjudul ”Tiga Sepilin, Surau Solusi untuk Bangsa”.

Lewat buku setebal 534 halaman ini, Mas’oed Abidin juga berupaya memetakan persoalan yang ada di tengah masyarakat hari ini, sekaligus memberikan solusi. ”Buku ini lahir dari kegelisahan penulis terhadap semakin jauhnya generasi muda Minangkabau dari nilai-nilai luhur ”adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Kehidupan di surau yang dahulu melahirkan tokoh-tokoh pendiri bangsa kini seperti sudah hilang ditelan modernisasi zaman,” ujar Mas’oed Abidin ketika memberikan sambutan dalam bedah buku ini di Convension Hall Universitas Andalas, Senin (19/12).

Dengan merendah, Mas’oed menyebut bahwa buku ini bukanlah buku istimewa. Namun, hanya buku sangat sederhana. Makanya, dia sangat terbuka buku ini dikritik tajam dan melahirkan bantahan-bantahan lewat ratusan buku-buku nantinya.

”Saya berharap lewat mengkritisi buku ini, lahir buku-buku lainnya,” sebut mantan salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar bidang dakwah (2003-2006) dan Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM) dari tahun 2001 hingga 2007 itu. Buku setebal 534 halaman ini terdiri atas tiga buku yang digabung menjadi satu, buku I bertajuk ”Surau Kito”, buku II bertajuk ”Halakah Surau”, dan buku III bertajuk ”Suluah Bendang dalam Nagari”.

Tokoh Minang yang juga mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyebut, buku ini memetakan permasalahan Minangkabau sekaligus mencarikan solusinya. Salah satunya menawarkan konsep surau. Kendati menarik, Fahmi menilai, perlu dibuat konsep baru terkait konsep surau ini.

”Surau yang diceritakan di dalam buku ini, saya pikir sudah tidak relevan. Namun, konsep surau pada masa lampau dapat dimodernisasi agar sesuai zamannya,” ujarnya.

Dia menyarankan agar anak-anak muda saat ini mampu mendirikan lembaga yang kuat seperti surau di masa lampau. Sehingga, mampu menghadirkan tokoh-tokoh besar. ”Setelah membaca buku ini, Buya telah memberikan jalan dan dapat diterapkan di era modern kali ini konsepnya,” ujar Fahmi.

Di sisi lain, Dr Hasanuddin (dosen Fakultas Ilmu Budaya) Unand ini sewaktu membedah buku ini menekankan bahwa kembali ke nagari belum cukup untuk meningkatkan kembali kejayaan Minangkabau seperti dulu. Begitu juga tawaran penulis bahwa surau menjadi solusi atas merosotnya etika Minangkabau hari ini.

”Persoalan kita hari ini, bukan hanya soal turun adab dan etika, tetapi juga kurang spirit. Buya misalnya masih produktif, sementara anak muda hari ini seperti kekurangan spirit dalam melakukan kritik. Ini perihal yang belum diulas dalam buku ini,” ujar dia membahas buku terbitan Gre Publishing Yogyakarta itu.

Sementara Mestika Zed (sejarawan dari Universitas Negeri Padang) sewaktu membahas buku itu menyebutkan bahwa tiga dari empat dari pendiri negara Republik Indonesia berasal dari Minangkabau. Menurut dia, buku ini merupakan peringatan, pendorong, motivasi agar tiga tungku sajarangan yang menjadi tonggak penting kepemimpinan budaya Minangkabau yang mulai memudar.

Sumber: http://padek.co/cetak.php?id=75395