Tiga Sepilin: Surau Solusi untuk Bangsa

3-sepilin-2

Judul:

Tiga Sepilin: Surau Solusi untuk Bangsa

Penulis:

H. Mas’oed Abidin

 

Pengantar:

Dr (HC) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla

Dr. Rais Yatim

Tebal: 560 halaman

Harga: Rp. 150.000,-

Sinopsis:

Buku “Tiga Sepilin” ini lahir dari kegelisahan penulis akan semakin jauhnya generasi muda terutama di Minangkabau dari nilai-nilai luhur “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Apabila degradasi itu terus dibiarkan, kita akan menghadapi kesuraman masa depan Minangkabau khususnya, dan Indonesia pada umumnya karena ruh religiusitas yang selama ini menjadi pedoman dan kekuatan untuk membangun bangsa telah mulai pudar.

Buku ini hadir sebagai pengingat, pendorong dan penghidup kembali peran Alim Ulama, Niniak Mamak dan Cadiak Pandai untuk kembali melakukan kerja-kerja praktis dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Agar Minangkabau tetap berada di jalur yang benar dan istiqomah memegang kearifan masyarakatnya yang beradat dan bersyarak.

Seiring bergulirnya Otonomi Daerah, Sumatera Barat (baca Minangkabau) mendapatkan hembusan angin segar untuk kembali mengimplementasikan kearifan lokalnya (Banagari) dalam kehidupan masyarakatnya. Nagari sebagai struktur pemerintahan yang mendapatkan legalitas formalistik dari negara kemudian muncul di berbagai wilayah Sumatera Barat dengan kembali menghidupkan nama nagari yang dulu pernah eksis. Pemilihan wali nagari menjadi kontestasi politik kultural yang mendapatkan antusiasme dari masyarakat.

Namun seiring berjalan waktu, keberadaan Nagari dengan perangkat-perangkatnya di hampir setiap pelosok daerah Sumatera Barat tak kunjung menjadi eskalator sosiologis untuk menghadirkan “kejayaan Minangkabau” dan urung melahirkan generasi-generasi baru Minangkabau yang mampu berkiprah luas sebagaimana generasi Minang di awal abad ke 20 yang memainkan peranan penting dalam kebangkitan nasional dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Banyak intelektual Minangkabau baik yang berada di ranah maupun di rantau yang gelisah dengan dinamika Minangkabau saat ini dan khawatir akan masa depan Minangkabau yang dilihat tak kunjung berubah menuju kebaikan. Bahkan mereka merasa “Kembali Banagari” belumlah cukup untuk mengembalikan kegemilangan Minangkabau.