Gagasan dan Gerak Dakwah Mohammad Natsir

NATSIR MEI 2016 - 1-1Judul: Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir (Hidupkan Dakwah Bangun Negeri)

Penulis: H. Mas’oed Abidin (Sekretaris Terakhir Mohammad Natsir)

Kata Pengantar:

  • Dr. Gamawan Fauzi
  • Prof. Dr. Siddiq Fadzil
  • Dr. Adian Husaini

Tebal: 580 halaman

Harga: Rp. 150.000

Sinopsis:

Penerbitan buku ini paling tidak mencermati dua situasi kontemporer yang terjadi di Indonesia. Pertama, kerinduan akan idealisme politik dengan balutan kesantunan akhlak yang belakangan sudah menjadi barang langka. Kedua, euforia kebangkitan gerakan dakwah Islam yang melanda kaum muda lebih didominasi oleh praktek imitasi. Kebanyakan gerakan dakwah dari Timur Tengah yang mewarnai Indonesia beberapa dekade ini diterima tanpa proses adaptasi budaya dan mengabaikan kontekstualitas psikologis serta realitas masyarakat.

Di sisi lain, pemuda-pemuda brilian yang memperoleh beasiswa pendidikan ke pusat-pusat keilmuan Barat, sebagian besar larut dalam kekaguman. Metodologi Barat dianggap sebagai pisau analisis yang perlu dikedepankan ketika melihat realitas di Indonesia. Hingga lahirlah berbagai macam pernyataan-pernyataan sumbang yang tidak sepantasnya terhadap Islam.

“Gagasan dan Gerak Dakwah Mohammad Natsir” hendak mengembalikan memori kaum Muda Indonesia yang perlahan meninggalkan jejak langkah yang telah ditorehkan oleh pejuang-pejuang Islam di zaman dulu, dalam konteks ini adalah Mohammad Natsir. Dididik di sekolah Belanda tidak kemudian membuat beliau menjadi latah dengan membenarkan apa yang disampaikan guru-guru kulit putihnya. Bahkan setamat AMS di Bandung, kesempatan belajar ke Belanda enggan beliau ambil. Berguru kepada A. Hassan lebih disukainya.

Sejak itulah napak tilas perjuangan Natsir dimulai. Bidang pendidikan, pemikiran, dan politik dilakoninya dengan semangat dakwah Islam. Beliau adalah orang yang berkomitmen dengan Islam dan alergi dengan praktek Kristenisasi. Tetapi di saat yang sama beliau bisa bersahabat dengan tokoh-tokoh Kristen tanpa perasaan benci. Dengan santun beliau berpolitik melalui Partai Masyumi, dan dengan santun pula beliau menerima pelarangan Orde Baru. Tak pernah kehilangan semangat. Jika pintu politik praktis ditutup, beliaupun mengalihkan energinya untuk meluaskan dakwah Islam lewat kehadiran Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.